Alone Without Friends! (DAMN -__-)
Hmm, what i’ve done today? Apa yang sudah aku lakukan hari ini? -ini sama persis dengan kalimat pembuka waktu aku menulis posting Around the Downtown.
Hari ini harusnya aku nonton bareng anak-anak kelas di BSM dan berkumpul di sana jam 13, sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat kemarin. Aku berangkat sekitar jam 10-an menuju lokasi. Aku sengaja memilih pergi lebih awal karena aku mau mencari barang dulu. Seperti biasa, deru mesin kendaraan bermotor, knalpot sepeda motor yang bunyinya cempreng dan memekakkan telinga, suara klakson yang beraneka ragam, debu jalanan yang kering, kemacetan jalan, dan aneka aktivitas manusia menemani perjalananku. Untung hari ini cerah sehingga tidak ada hujan yang menemani perjalananku.
Sebenarnya pagi-pagi Amy, temanku, memberitahuku kalau dia tidak bisa pergi karena ada urusan keluarga yang mendadak. Oke, aku memakluminya karena sifatnya yang sangat urgent. Tapi aku mulai merasa enggak bakal jadi acaranya. Hmm, ternyata bener aja kejadiannya. Setelah Amy bilang enggak bisa, berturut-turut Tria, Dedel, Diky, dan Dape (ah, dia sih memang diragukan sejak awal) juga mengatakan yang sama. Mereka semua sepakat nontonnya besok saja. Yah, padahal besok giliran aku yang tidak bisa pergi karena mau ke rumah nenek di Tasik.
Aku baru tahu kepastian itu waktu sudah ada di BSM. Sudah terlambat.. Waktu itu aku lagi ada di Gramedia untuk mencari buku dan clear holder, tapi buku yang aku cari tidak ada dan clear holder yang ada menurutku kemahalan, hampir 60 ribu rupiah. Uang 150 ribu yang dibekali ibuku untuk membeli keperluan itu bisa habis dengan sangat cepat dalam sehari bila aku membeli barang itu. Haah, kok barang-barang serba mahal ya? Dalam satu hari bisa saja uang 100 ribu habis terpakai untuk membeli keperluan hidup. Akhirnya aku tidak membeli apa-apa di sana karena dua masalah di atas itu, ditambah lagi dengan mood yang sedang jelek.
Sayang juga sudah lumayan jauh ke BSM, tidak membuahkan hasil apa-apa. Ya sudah, akhirnya aku memutuskan untuk menonton Toy Story 3 saja. Aku sempat tesenyum kecil waktu petugas tiketnya bertanya,
“Mau beli berapa tiket?”
Aku hanya menjawab, “Satu saja, Mbak.”
Haha, aku tersenyum kecil seperti itu karena mungkin si Mbak petugas tiket itu heran melihat ada orang yang beli tiket untuk sendiri. Ya sudahlah, itu asumsiku sendiri. Oh iya, sebelum membeli tiket, secara tidak sengaja aku ketemu dengan adik kelas waktu SD yang sekarang sudah menjadi anak SMA, namanya Ibrahim. Awalnya aku sudah lupa dengannya saat dia menyapaku. Hebat juga dia punya ingatan yang kuat, padahal aku dan dia tidak terlalu akrab dulu.
Waktu saat itu baru menunjukkan jam 12.15. Sementara itu pertunjukan baru dimulai jam 13.55! Sambil menunggu waktu selama 1 jam 40 menit itu, aku makan di KFC BSM yang terhalang satu toko dari Gramedia. Aku memesan Paket Super Panas Jumbo seharga 18.500 rupiah (including tax 10%). Namanya terdengar heboh, tapi begitu disajikan barulah aku tahu itu hanya berisi nasi, sepotong ayam goreng, dan pepsi ukuran medium. Haah, masih lebih murah Paket Attack yang baru muncul jam 3 sore plus Paket Goceng. Sambil makan aku memikirkan pengeluaranku hari ini untuk jalan-jalan sendiri. Tiket ditambah KFC total berjumlah 33.500 rupiah. Belum lagi ongkos untuk pulang. Begitulah nasib kalau jalan-jalan sendirian. Segala pengeluaran sekecil apapun diperhitungkan dan dipermasalahkan.
Baru saja beres makan dan mau keluar, aku bertemu dengan Putri dan adiknya, Nugi. Dia memakai blus warna hijau dengan warna hijau bermotif polkadot dan anting. Kirain aku dia habis pergi jalan-jalan dari mana. Tahunya dia makan ke BSM karena di rumahnya tidak bisa masak dan tidak ada makanan gara-gara tabung gas bocor.
“Mad, jadi enggak nonton tuh?” tanya Putri.
“Enggak jadi Put, jadinya cuma aku sendiri aja, hehe” jawabku dengan muka nyengir.
“Euh, kamu mah. Kenapa enggak konfirmasi dulu sama yang lain baru berangkat?”
“Haha, udah nanggung di BSM, Put, soalnya. Lagian aku mau nyari barang. Ya enggak apa-apalah.”
Ada benarnya juga ucapan Putri. Tapi perasaanku sudah terlanjur jengkel dan dongkol. Ah, sudahlah tidak ada gunanya menyesal. Aku teringat lagi satu urusan yang ingin aku selesaikan: Beli kado untuk ‘qwertyuiop’ (nama samarannya norak ya?). Aku pergi ke Metro BSM bagian konter boneka, mainan, dan suvenir. Wah, bagus-bagus barangnya. Ada mug, boneka yang lucu, dan pajangan yang bagus. Harganya juga ‘bagus’. Aku jadi bingung mau beli yang mana. Karena aku bingung, aku tidak jadi beli dan mempertimbangkan mana yang sebaiknya aku beli.
Akhirnya waktu tayang tinggal 10 menit lagi. Aku bergegas ke Studio 1, tempat film Toy Story diputar, dan menempati bangku bernomor J 12. Posisinya strategis karena tepat berada di tengah. Hahaha, ternyata filmnya sangat menghibur. Ah, sedih dan mengharukan akhir ceritanya. Aku jadi teringat mainanku waktu aku masih kecil. Seandainya saja mainan itu punya nyawa seperti di film Toy Story (asal jangan seperti mainan di film Chuckie). Tapi ini adalah dunia nyata, bukan dunia fantasi. Film tersebut selesai pada jam 15.30 sore. Setelah dipikir-pikir lagi, tidak ada ruginya aku nonton film sendirian. Malah aku merasakan suatu getaran yang kuat di dalam hatiku.
Sepanjang perjalanan pulang, tentunya sendiri, aku merenung dan memperhatikan kehidupan orang-orang di sekitarku. Aku menikmati bau khas pasar dari Pasar Kiaracondong, jalan yang sangat macet di bawah fly over, suara klakson dan deru mesin kendaraan bermotor, aktivitas manusia yang lalu lalang, dan angkot yang tidak sabaran untuk terus melajukan kendaraannya. Itulah sisi positifnya sendirian, meskipun tidak selamanya sendirian itu enak.
Alone without friends, damn -__-
